BLACKBERRY BELLAGIO, SI PEMICU RUSUH

Blackberry terbaru : Bellagio

Gadget terbaru besutan Research in Motion ltd, BlackBerry 9790, baru saja diperebutkan masyarakat Indonesia. Mereka berebut lantaran harga yang ditawarkan cukup menggiurkan. Tak tanggung-tanggung, ponsel cerdas dengan julukan Bellagio ini berdiskon hingga 50%.

Penjatahan potongan bagi 1.000 pembeli pertama ini mirip sekali dengan skema diskon pakaian yang dijual di akhir tahun. Ataupun pembagian sembako menjelang Lebaran. Pembedanya adalah perebutan gengsi dan satunya benar-benar urusan perut.

Memang, berponsel di muka umum dengan memainkan kedua jempol tangan ini sudah menjadi gata hidup. Banyak dijumpai, yang satu serius berbicara, yang satunya lagi sibuk membalas pesan. Ternyata banyak juga dalih untuk menepis. Salah satunya: zaman sekarang harus multitasking…

Boleh dikata, pabrikan asal kanada ini sudah mampu dinyatakan sukses menghipnotis seluruh warga Indonesia. Bukti yang paling konkret, penggunanya semakin bertambah dan mereka juga meluncuran seri ini di Indonesia, sebagai penghargaan sebagai salah satu negara basis pengguna.

Hebat ponselnya, hebat juga pola penjualannya. Bila dicermati, hampir tidak ada RIM ini beriklan di koran, website maupun media pamer Indonesia lainnya. Baru-baru ini saja mereka beriklan karena kenaikan penjualannya tidak setajam tahun sebelumnya.

Ponsel yang identik dengan muka QWERTY ini sukses dengan salah satu fiturnya, BlackBerry Messanger. Dengan live chat ini, mereka mampu membentuk komunitas gengsi.

Bagaimana tidak, saat seseorang bertanya: berapa PIN-nya? Anak Sekolah Menengah Pertama pun mampu merengek untuk dibelikan. Begitu juga dengan orang tua, merasa malu jika anaknya tak sejalan dengan teman sepermainannya.

Melirik pengguna ponsel cerdas, banyak pola hidup sudah bergeser. Lebih parah lagi keuangan hingga keluarga dijadikan tumbal. Untuk berlangganan kelengkapan fitunya saja, harus mengeluarkan bujet minimal Rp79.000. Belum lagi untuk kebutuhan pulsa sehari-hari. Untuk bertelepon misalnya.

Ya. Boleh dikata, gengsi telepon seluler ini memang mampu menaikkan derajat dimata teman maupun kolega. Kita memperoleh ucapan Wow dibanding lainnya. No problem, berebut ponsel cantik ini buah dari sifat manusia yang selalu tampak berseri sehabis dipuja.

Bahayanya, bagi yang tidak atau belum dianggap Wow. Orang yang dianggap biasa-biasa saja, bisa jadi akan mencoba sekuat tenaga untuk mengikuti dan meniru sesuatu yang dianggap lagi in. Tentu ada juga yang tidak. Dan menganggap masalah gengsi ini selesai sampai disini.

Ungkapan Wow serta anggapan trendi dan gaul ini bahkan sudah menjangkit sebagian generasi muda Indonesia. Sebagian remaja kita yang masih menggantungkan hidup dari orang tuanya. “Pa beli ini atau Ma beli itu.” Sangat kerap didengar. Dan ternyata terlalu mengusik jika berlanjut.

Bisa dipahami, kalimat permohonan itu berlanjut karena ada dua penyebab. Antara orang tua memberikan pelajaran atau memang tidak punya uang lebih untuk mengiyakan permohonan anak.

Disini, generasi muda tampaknya sudah miskin. Miskin karena tidak mampu menakar kapasitas orang tuanya. Tentu dengan dibuktikan adanya permintaan yang harus terlebih dulu diberi pelajaran atau bahkan penolakan.

Saat mendengar kabar penjualan perdana BlackBerry di Pacific Place, Jakarta sudah sold out, lega rasanya. Meskipun juga sempat ada pengantre yang jatuh lunglai karena pingsan.

Saat itu juga, saya teringat petuah Robert T Kiyosaki tentang Rich Dad Poor Dad. Saat membaca buku Pria 64 tahun, yang memuat Bapak Kaya dan Bapak Miskin ini, secara tersirat saya juga memaknai apa itu gengsi.

Mantan serdadu ini menulis tentang bagaimana masalah finansial yang dihadapi banyak orang dikarenakan ajaran orang tua mereka mengenai keuangan.

Secara harfiah dituliskan, Ayah Kaya mengajarkan untuk belajar dan memilih investasi untuk mendapat uang. Adapun Ayah Miskin mengajarkan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya untuk mampu bekerja dan mendapat uang.

Dapat ditarik kesimpulan, pria kelahiran Hawaii, AS ini mengajarkan bagaimana anak belajar dan mendapatkan uang. Makna dan tujuan Ayah Kaya dan Ayah Miskin tetap sama. Untuk mendapat uang. Empat kuadrannya memberikan gambaran jelas bagaimana uang bisa diperoleh.

Uang dan gengsi adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Dalam sejumlah kasus, keduanya banyak berjalan seiring. Uang melengkapi gengsi. Dan gengsi pun harus dilengkapi uang. Uang memang bukan segalanya. Namun terbukti telah mampu membantu melancarkan segalanya.

Namun, tidak ada salahnya. Jika orang tua terlebih dulu mengajarkan uang bukan untuk kegitan konsumtif. Terlebih untuk memperoleh ucapan Wow. Jika generasi muda kita terjebak dalam budaya gengsi maka akan membuat mereka lemah dan manja untuk masa depannya.

Lebih berkaca pada ajaran Kiyosaki: Jika mereka mau jadi pegawai atau pejabat, mereka hanya akan menuruti keinginan konsumtif dan lalai untuk melayani. Sekalipun jadi pengusaha, mereka akan malas dan malu untuk memulai dari yang kecil.

Sebaiknya seseorang mempunyai gaya masing-masing sesuai pribadinya tanpa harus dipaksakan. Dengan begitu seseorang bisa berfikir lebih rasional dan mengesampingkan emosional.

Sekarang mampukah kita mencibir untuk diri sendiri saat gengsi yang tidak terpenuhi bukan karena masalah uang

Twitter Terbaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Top Rated

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 4 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: